Peranan Pemerintah (insentif fiskal dan non fiskal) dan Perbankan Terhadap Pengembangan Green Building (6/8)

III.                  Konsep Green Building

Untuk mensikapi kondisi lingkungan kita yang mulai terasa dampak dari global warming, efek rumah kaca, polusi yang tak terbendung serta bertumbuhnya desain bangunan yang tidak mencitrakan alam sebagai tema utamanya, maka perlu kami jelaskan mengenai konsep Green Building sebagai solusi permasalahan tersebut.

Desain bangunan di Indonesia sebaiknya tidak melupakan kaidah-kaidah arsitektur tropis yang notabene sudah sesuai dengan kondisi “alamnya” dan iklim di Indonesia. Arsitektur tropis sudah dipopulerkan sejak jamannya sang arsitek kawakan F. Silaban, namun seiring perkembangan jaman, kaidah tersebut mulai ditinggalkan, bangunan yang kebarat-baratan tanpa perhitungan kondisi cuaca di Indonesia sudah menjadi tren saat ini. Green architecture dan green construction merupakan solusi terbaik untuk mengatasi hal ini dan mewujudkan kondisi bangunan yang nyaman bagi penghuni dan lingkungan sekitarnya.

Konsep Green Building atau bangunan hijau dikembangkan pada tahun 1970-an sebagai respons terhadap krisis energi dan keprihatinan masyarakat tentang lingkungan hidup. Inovasi untuk mengembangkan green building terus dilakukan sebagai upaya untuk menghemat energi dan mengurangi masalah-masalah lingkungan.

Green building tidak mudah didefinisikan. Sering dikenal sebagai sustainable building atau bangunan berkelanjutan, ada yang menyebutkan sebagai eco-homes atau bangunan yang berwawasan lingkungan. Ada berbagai pendapat tentang apa yang bisa digolongkan sebagai green building, pada umumnya setuju bahwa green building adalah yang strukturnya diletakkan, dirancang, dibangun, direnovasi dan dioperasikan untuk panduan hemat energi, dan memberi dampak positif bagi lingkungan, dampak ekonomi dan sosial. Namun singkatnya menurut Brenda dan Robert Vale, green building merupakan suatu pola pikir dalam arsitektur yang memperhatikan unsur-unsur alam yang terkandung di dalam suatu tapak untuk dapat digunakan.

Ada empat elemen-elemen bidang utama yang perlu dipertimbangkan dalam green building, sebagaimana yang dikutip oleh Eko Yusuf Prranggono dalam blognya, yakni material, energi, air dan faktor kesehatan, berikut ini penjelasannya.[1]

1. Material

Ini diperoleh dari alam, renewable sources yang telah dikelola dan dipanen secara berkelanjutan, atau yang diperoleh secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi; atau diselamatkan dari bahan reklamasi di lokasi terdekat. Material yang dipakai menggunakan green specifications yang termasuk dalam daftar Life Cycle Analysis (LCA) seperti: energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

2. Energi

Green Building sering mencakup langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi baik energi yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti kondisi bangunan yang segi mudahnya angin dan sinar matahari yang mudah masuk kedalam bangunan.. Selain itu selain segi operasional, segi pelaksanaan juga harus diperhatikan. Studi LCI US Database Proyek bangunan yang menunjukkan dibangun dengan kayu akan menghasilkan energi pempuangan yang lebih rendah daripada bangunan gedung yang bahan bangunannya menggunakan dengan batu bata, beton atau baja. Untuk mengurangi penggunaan energi operasi, penggunaan jendela yang se-efisiensi mungkin dan insulasi pada dinding, plafon atau tempat masuknya aliran udara ke dalam bangunan gedung. Strategi lain, desain bangunan surya pasif, sering dilaksanakan di rumah-rumah rendah energi. Penempatan jendela yang efektif (pencahayaan) dapat memberikan cahaya lebih alami dan mengurangi kebutuhan penerangan listrik di siang hari.[2]

3. Air

Konsep green building juga memperhatikan mengenai penggunaan air. Sekarang, banyak konsep desain rumah yang mengabaikan tentang penggunaan air. Mostly, rumah-rumah mengandalkan penggunaan air tanah yang berasal dari sumur dangkal ataupun dalam tanpa memberikan masukan tambahan air kepada tanah yang berakibat turunnya permukaan air tanah dan turunnya permukaan tanah permukaan. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuat penyimpanan atau memberikan asupan air kepada tanah di lingkungan yang ada disekitarnya. Solusinya yaitu dengan membuat tandon air penadah hujan di bawah tanah atau membuat sumur resapan penadah air hujan. Sistem penadah hujan yang mana ketika air turun di atas bangunan gedung yang kemudian direkayasa sedemikian rupa sehingga direncanakan air akan berkumpul pada satu tempat dan dialirkan menuju sumur resapan untuk menghindari terjadinya penurunan permukaan air tanah. Mengurangi penggunaan air dan menggunakan STP (siwage treatment plant) untuk mendaur ulang air dari limbah rumah tangga sehingga bsa digunakan kembali untuk tanki toilet, penyiram tanaman, dll. Menggunakan peralatan hemat air, seperti shower bertekanan rendah , kran otomatis (self-closing or spray taps), tanki toilet yang low-flush toilet. Yang intinya mengatur penggunaan air dalam bangunan sehemat mungkin.

4. Faktor Kesehatan

Menggunakan material dan produk-produk yang non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan mengurangi tingkat asma, alergi dan sick building syndrome. Material yang bebas emisi, dan tahan untuk mencegah kelembaban yang menghasilkan spora dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan bahan-bahan pengontrol kelembaban yang memungkinkan bangunan untuk bernapas.

Selain 4 bidang di atas, green building dapat menekan biaya untuk pekerjaan konstruksinya, dan memenuhi kebutuhan yang lebih luas dari masyarakat, dengan menggunakan tenaga kerja lokal, dan memastikan bangunan diletakkan tepat bagi kebutuhan masyarakat.

Green building memerlukan pendekatan holistik yang menganggap masing-masing komponen dari sebuah bangunan, yang berhubungan dengan konteks seluruh bangunan dan juga mempertimbangkan dampak lingkungan yang lebih luas dengan masyarakat di sekitarnya. Ini adalah pendekatan yang sangat kompleks yang memerlukan kontraktor, arsitek dan desainer untuk berpikir kreatif, menggunakan integrasi sistem di seluruh pekerjaan mereka. Ada beberapa teknologi dan metodologi penilaian yang dapat membantu pembangun dengan proses ini termasuk BREEAM (Building and Research Establishment Environmental Assessment Method) dan Eco-Homes.

Meskipun masih dalam masa pengembangan, green building termasuk pesat pertumbuhannya. Di negara maju seperti Ingris sudah menuntut spesifikasi green building dalam perencanaan dan pembangunan bangunan baru, sebagai bagian dari strategi sustainable building yang lebih luas, dan ini berarti bahwa nantinya green building muncul di seluruh penjuru negeri. Dalam usia terancam oleh perubahan iklim, kekurangan energi yang semakin meningkat dan masalah kesehatan, memang masuk akal untuk membangun rumah yang tahan lama, menghemat energi, mengurangi limbah dan polusi, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Green Building lebih dari sebuah konsep untuk hidup berkelanjutan, tetapi bisa membangun harapan untuk masa depan. Manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan konsep Green Building setidaknya ada tiga manfaat, yakni:[3]

Pertama manfaat lingkungan, dengan meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem, memperbaiki kualitas udara, memperbaiki kualitas air, mereduksi limbah dan konservasi sumber daya alam.

Kedua manfaat ekonomi, yakni mereduksi biaya operasional, menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau, meningkatkan produktivitas penghuni dan mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi.

Ketiga manfaat sosial, yakni dapat meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni, meningkatkan kualitas estetika, mereduksi masalah dengan infrastruktur lokal, serta meningkatkan kualitas hidup keseluruhan.

Di Amerika dikenal sebuah badan resmi yang bisa mengeluarkan sertifikasi atas bangunan-bangunan yang diklaim menggunakan konsep ini. Lembaga ini yaitu; US Green Building Council memiliki sertifikasi system yang dikenal dengan nama LEED (Leadership in Energy and Environtmental Design). Hingga kini belum ada gedung di Indonesia yang mengambil sertifikasi LEED tersebut, kira-kira penyebabnya mungkin terkait dengan kesulitan untuk memenuhi beberapa persyaratan yang diminta semisal jarak antara sumber material dan lokasi proyek yang disyaratkan dalam range tertentu dimana hal ini sulit jika material yang digunakan ternyata hanya tersedia di luar negeri, tentunya hal ini berdampak pada pengurangan poin, selain itu persyaratan yang diminta oleh LEED cukup signifikan terhadap besarnya nilai proyek, sehingga otomatis investor lokal atau pemilik gedung lebih memilih menggunakan pertimbangan prinsip ekonomi.[4]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s