Peranan Pemerintah (insentif fiskal dan non fiskal) dan Perbankan Terhadap Pengembangan Green Building (4/8)

Di tingkat regulator pada bulan November 2007 China mengeluarkan regulasi yang dibuat oleh CBRC (China’s Banking Regulatory Commission) yang mengatur “Guidelines on Credit Underwriting for Energy Conservation and Emission Reduction”. Dalam regulasi ini CBRC juga memasukkan katalog yang memuat sektor-sektor usaha mana saja yang layak untuk dibiayai oleh perbankan dalam kaitannya dengan aspek lingkungan. Jadi jelas sekali panduan bagi perbankan China sehingga mereka tidak kebingungan untuk terjun dalam bisnis yang ramah lingkungan.

Untuk mewujudkan praktek “green financing” dan “green banking” secara komprehensif maka selain regulator, peran nasabah dan pemegang saham sangat dibutuhkan. Suara kedua stakeholder khususnya mereka yang peduli pada isu-isu sustainability (keberlanjutan) dapat mempercepat manajemen senior menyesuaikan bisnis banknya dengan lingkungan hidup.

Semua adalah pilihan, ketika kita ingin memperbaiki sesuatu, terutama planet sebagai rumah bersama, lebih sempurna kita mengerjakannya bersama-sama, sinergis dan berkelanjutan. Untuk itulah green financing menjadi keniscayaan dalam praktek bisnis yang bertanggungjawab dan ramah kepada lingkungan hidup. Dengan cara ini bank tidak memperlambat proses kredit namun memperkuat proses itu dalam keberlanjutan perusahaan maupun lingkungan dan sosial.[1]

Di Amerika Serikat sendiri konsep Green Banking sedang dipersiapkan untuk didirikan. Ide pendirian Green banking ini diinisiasi oleh anggota Konggres yang bernama Chris Van Hollen pada Maret 2009 yang mengusulkan pembentukan green banking yang dimiliki oleh pemerintah (BUMN) dengan tujuan untuk menawarkan layanan keuangan yang mendukung usaha untuk meningkatkan effisiensi penggunaan energi dan untuk menurunkan emisi karbondioksida serta polutan lingkungan yang lain yang disebabkan oleh penciptaan energi yang lain. Kongres mengusulkan pendirian bank ini dengan modal awal sebesar US$ 10 miliar yang diberikan oleh Departemen Keuangan USA dengan menerbitkan green bond dengan maksimal lima puluh miliar dolar obligasi yang beredar pada satu waktu. Ide ini mendapat sambutan hangat dari beberapa kelompok investor, ahli industri energi, dan pelaku industry manufaktur yang tergabung dalam bendera koalisi pendukung Green Banking. Sementara proposal pendirian green banking ini masih “digodok” di tingkat pemerintah pusat, di tingkat pemerintah federal langkah praktis sudah diambil. Di Kentucky telah didirikan Green Bank loan fund dengan modal awal sebesar US$ 20 juta dengan tujuan untuk penggunaan sumber energi yang lebih efisien diantara gedung-gedung milik pemerintah. 54 Pinjaman berbunga rendah disediakan untuk proyek-proyek pemerintah dengan tujuan untuk penghematan energi. Sektor swasta juga melakukan inisiatif dengan mendirikan green bank pertama di tingkat federal yakni Bank of Eustis, Florida yang berdiri pada bulan Februari 2009. Bank ini mendeskripsikan dirinya sebagai “ bank pertama yang mendorong dampak positif bagi lingkungan dan tanggungjawab sosial sementara bank tetap beroperasi dalam fungsi tradisional bank dengan layanan execellent bagi investor dan nasabah”. Bank of Eustis yang kemudian disebut dengan The First Green Bank mengumumkan bahwa dia akan memberikan seperlima (1/5) dari total lending-nya kepada developer proyek-proyek komersial dalam rangka mematuhi US Green Building Council’s Leadership in Energy and Environmental Design (LEED). Bank ini juga memberikan diskon suku bunga bagi perusahaan yang melaksanakan proyek-proyek yang memperoleh sertifikasi LEED dari US Green Building Council. Karyawan yang memiliki sertifikasi LEED ini akan memperoleh tambahan gaji. Sertifikasi ini bagi karyawan adalah bahwa mereka memahami praktik green banking. Sertfikasi ini berarti bahwa bangunan proyek yang akan dibangun adalah sebuah tempat yang sehat untuk bekerja dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan menghemat energi , air dan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Modal awal bank ini adalah US$ 15 juta- 25 juta44.[2]


[1] http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis /2011/06/20/lingkungan-hidup-dan-peran-jasa-keuangan/

[2] Kajian : Model Bisnis Perbankan Syariah 2012 oleh Tim Peneliti Bank Indonesia-Direktorat Perbankan Syariah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s