Peranan Pemerintah (insentif fiskal dan non fiskal) dan Perbankan Terhadap Pengembangan Green Building (1/8)

Penulis : Asep Saepullah | Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta | Fakultas Syariah & Hukum | Jurusan Perbankan Syariah |

twitter : @assaefullah

Latar belakang

Permasalahan di abad millennium saat ini adalah adanya climate change yang melanda belahan dunia. banyak Negara di dunia yang secara terus menerus melakukan eksplorasi sumber daya di berbagai bidang tanpa mengindahkan dampak pencemaran lingkungan demi sebuah profit yang membentuk ekonomi sentris. Di Negara dunia sendiri isu green building ini sudah menjadi hot isu yang terus digalakkan. Seperti di singapura sendiri pada acara International Green Building Conference 2011, Pemerintah Singapura sangat serius dalam menghadapi perubahan iklim. Sejak 2005, pemerintah memulai program ini dari sektor gedung dan konstruksi. Dikatakan oleh Menteri Negara Pembangunan Nasional dan Tenaga Kerja Singapura Tan Chuan-Jin, pemerintah menyadari bahwa sektor gedung menyumbang sepertiga dari total penggunaan listrik di Singapura.Artinya, sektor ini menduduki posisi kedua setelah sektor industri yang menghabiskan 40 persen dari total konsumsi listrik. Padahal saat ini lebih dari 95 persen lahan pembangunan sudah terisi. Bila gedung-gedung yang sudah ada itu diubah menjadi bangunan yang ramah lingkungan, akan banyak penggunaan energi yang bisa dikurangi. Selain itu, biaya untuk energi menghabiskan 40 persen dari total pembiayaan sebuah gedung. “Karena itu kami memiliki ambisi yang cukup besar untuk menjadikan gedung-gedung di Singapura sebagai bangunan yang ramah lingkungan. Target kami pada tahun 2030, 80 persen gedung-gedung di sini sudah berlabel green building,” jelas Tan Chuan-Jin, pekan lalu. Untuk mengejar itu, Singapura tak segan mengeluarkan insentif besar untuk pengelola gedung. Sebab untuk mengubah gedung yang ada menjadi sebuah bangunan hijau diperlukan biaya yang cukup besar. “Pemerintah Singapura menyiapkan insentif sebesar seratus juta dollar bagi gedung untuk melakukan perubahan demi mencapai label green building ,” ucap Tan. [1]

Lalu bagaimana perkembangan green building sendiri, berdasarkan Green Building Council, ada beberapa rintangan dan tantangan dalam pengembangan konsep green building, pada tahun 80’an pemikiran akan konsep green building belum bisa diterima oleh khalayak umum untuk tujuan pergerakan hijau demi perubahan yang lebih baik. Begitu juga pada tahun 90’an kecenderungan para pelaku industry dan konstruksi di Indonesia dengan tidak memperhatikan setiap proses kegiatannya ke arah perubahan menuju hijau dan lestari. Lalu bagaimana perkembangan isu green building di Indonesia pada tahun 2000’an, pada tahun 2000’an masyarakat masih menganggap hijau adalah hanya sebuah trend an slogan semata, tidak dijadikan untuk merubah gaya hidup ke arah yang lebih baik. Pada tahun 2000, isu green building menjadi wacana utama pada pertemuan internasional dan menjadi pemacu untuk menerapkannya di Indonesia dengan berorientasi terhadap rating tools Negara lain, seperti; USGBC-LEED.[2]

Oleh karena itu dari berbagai permasalahan diawal paragraph di atas, yang melatar belakangi bagaimana kah prospek dan proses pembiayaan dalam green building di Indonesia serta keterkaitannya dengan lembaga keuangan dan tentunya pemerintah Indonesia dalam hal kebijakan fiskalnya dalam bentuk insentif fiskal pada setiap proyek green building di Indonesia.


[2] . Naning Adiwoso.Chiefperson of GBC Indonesia.”Reinventing the wheel”.world green building council. JW Marriot, 25 maret 2011 : jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s