Pembawa Ekonomi Islam yang Ideal (2/3)

Penulis : Denny Iswanto | Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta | Fakultas Ekonomi & Bisnis | Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan

twitter : @denny_is90

II.            Pembahasan

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara. Banyak pakar manajemen yang mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan. Dalam hal ini dikemukakan George R. Terry (2006 : 495), sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.” Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya. Kepemimpinan menurut Halpin Winer yang dikutip oleh Dadi Permadi (2000 : 35) bahwa : “Kepemimpinan yang menekankan dua dimensi perilaku pimpinan apa yang dia istilahkan “initiating structure” (memprakarsai struktur) dan “consideration” (pertimbangan). Memprakarsai struktur adalah perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja dengan bawahannya dan juga usahanya dalam membentuk pola-pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur kerja yang jelas. Sedangkan pertimbangan adalah perilaku pemimpin dalam menunjukkan persahabatan dan respek dalam hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya dalam suatu kerja.” Dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.” Dari defenisi kepemimpinan itu dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variabel situasional lainnya. Perlu diperhatikan bahwa defenisi tersebut tidak menyebutkan suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apa pun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung kepemimpinan dari waktu ke waktu. Sedangkan George R Terry (2006 : 124), mengemukakan 8 (delapan) ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu : (1) Energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik; (2) Stabilitas emosi, tidak boleh mempunyai prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar; (3) Mempunyai pengetahuan tentang hubungan antara manusia; (4) Motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri; (5) Kemampuan berkomunikasi, atau kecakapan dalam berkomunikasi dan atau bernegosiasi; (6) Kemamapuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan; (7) Kemampuan sosial atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, dan luwes dalam bergaul; (8) Kemampuan teknik, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mangambil keputusan dan mampu menyusun konsep.

Kepemimpinan dalam konsep Islam adalah kepemimpinan berdasarkan hukum – hukum Allah, pemimpin yang bertanggung jawab kepada rakyatnya dan juga kepada semua tugas – tugasnya seperti layaknya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW karena sosok pemimpin memang sangat jelas telah nampak dalam diri Rasulullah SAW sebagaimana dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21). Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF): (1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya; (2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi; (3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya; (4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Secara garis besar konsep kepemimpinan Islam tidak jauh berbeda dengan konsep kempemimpinan dan pemimpin dalam masyarakat luas tetapi kecintaan terhadap Allah SWT dan hukum – hukumNya adalah suatu yang utama yang membedakan dengan konsep kepemimpinan secara umum di masayarakat luas. Sehingga motivasi dalam agama dan motivasi untuk benar – benar menjadi pemimpin yang baik lebih tertanamkan dengan baik dalam diri pribadi.

Konsep kepemimpinan ini dapat kita implementasikan dalam konteks generasi muda mahasiswa yang sedang memperjuangkan Ekonomi Islam agar tegak dalam sistem Ekonomi dalam masyarakat sekarang. Sebagai mahasiswa yang ingin menegakkan Ekonomi Islam haruslah kita mempunyai visi misi yang jelas dan mampu diimplementasikan pada tiap kondisi masyarakat dari waktu ke waktu. Mempunyai pengetahuan yang luas akan Ekonomi Islam dan konsen dalam mendalami ilmunya tersebut sehingga kita bisa menyampaikan ke masyarakat dengan bil Hikmah (dengan komunikasi yang baik). Kita harus bertanggung jawab juga terhadap tugas yang telah diamanahkan sampai tujuan dan visi misi tercapai meskipun terkadang banyak juga tantangan yang akan membuat langkah kaki terhambat dan mempengaruhi untuk melepaskan semua tanggung jawab. Maka agar dapat mempunyai kemampuan dan kepribadian pemimpin ini harus dilaksanakan pelatihan – pelatihan yang intensif dan juga pembelajaran yang terarah. Menurut Jurnal Penelitian H.M.Mansyur kepribadian kepemimpinan Islam terbentuk dari pemahaman Islami Aqliyah Islamiyah serta pola jiwa Islami Nafsiyah Islamiyah artinya seseorang memiliki kepribadian Islam jika dalam dirinya terbentuk pola pikir dan pola jiwa Islami dengan cara menambah terus khasanah pengetahuan islam dengan kajian atau pengajian dan memperbanyak bacaan Islam dengan didukung mengikuti studi Islam yang benar serta terus menerus meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.[1] Memberikan contoh yang baik (Uswahtun hasanah) juga merupakan suatu metode yang baik untuk pembentukan pribadi yang ideal karena dengan tuntutan untuk menjadi contoh yang baik untuk orang lain maka pribadi yang baik akan terbentuk dengan sendirinya karena akan muncul budaya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, karena memberikan contoh yang baik tidak mudah dilakukan oleh setiap orang seperti yang ada di dalam firman Allah SWT : “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan kepada manusia. Kalian menyeru yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah” (Q.S. Ali Imran : 110). Sehingga dengan semua standard ini dan juga cara – cara teknis yang digunakan ini maka diharapkan akan muncul pribadi yang luar biasa untuk menegakkan Ekonomi Islam di masyarakat sehingga tidak akan berhenti untuk terus berjuang dan  terus konsisten.


[1] H.M.Mansyur. Upaya membentuk pemimpin yang memiliki kepribadian Islami. Jurnal Ilmiah STIAMI 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s