Gimana perkembangan perbankan, asuransi dan pasar modal syariah kita???

Penulis : Alfado Agustio | Perbankan Syariah, Universitas Islam Negeri 2009 |

Keuangan syariah sebagai sebuah sistem keuangan yang berlandaskan syariah memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan sistem keuangan konvensional. Salah satunya ialah fitur-fitur produk keuangan syariah yang berlandaskan keadilan dan bertujuan untuk menggerakan ekonomi umat. Di Indonesia perkembangan keuangan syariah cukup menggembirakan. Hal ini bisa ditandai pertumbuhan berbagai institusi keuangan syariah baik perbankan, asuransi, pasar modal, lembaga keuangan non bank dan badan zakat yang menunjukkan pertumbuhan signifikan setiap tahun. Untuk kali ini saya ingin membahas perbankan, asuransi dan pasar modal karena saya menganggap 3 sektor ini cukup penting untuk diketahui bagaimana perkembangannya.

Mari kita mulai pembahasan dari bidang perbankan. Diawali dengan berdirinya Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama yang berdiri di indonesia pada tahun 1992, saat ini di indonesia telah banyak berdiri bank-bank  syariah baik berbentuk Bank Umum Syariah (BUS) maupun berbentuk Unit Usaha Syariah (UUS). Berdasarkan statistik Bank Indonesia per desember 2012 , jumlah Bank Umum Syariah mencapai 11 buah dan Unit Usaha Syariah mencapai 23 buah. Banyak pencapaian positif yang dicapai perbankan syariah pada tahun lalu baik dari sisi aset, dana pihak ketiga maupun penyaluran pembiayaan. Berdasarkan dari data Bank Indonesia, tahun 2012 lalu  perbankan syariah telah memiliki aset mencapai Rp 179 Triliun(4,4% dari aset perbankan nasional) atau tumbuh sekitar 37% dari tahun sebelumnya. Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK), bank-bank syariah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 137 Triliun atau meningkat 32% dari tahun sebelumnya. Lalu dari sektor pembiayaan, bank syariah  telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 139 Triliun atau meningkat  sekitar 40% dari tahun sebelumnya.  Sebuah prestasi  membanggakan  yang ditorehkan oleh perbankan syariah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan bank syariah di Indonesia. Tetapi jangan sampai hal ini membuat bank-bank syariah cepat berpuas diri, justru hal ini sebagai penyemangat untuk terus tumbuh agar mencapai pangsa pasar 5 % pada akhir tahun 2013 atau pada tahun 2014 bisa tercapai.

Sekarang mari kita bahas sektor asuransi. Pertumbuhan asuransi syariah saat ini masih cukup positif meskipun tidak secemerlang dengan sektor perbankan. Berawal dari berdirinya perusahaan asuransi syariah pertama yaitu PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) 24 Februari 1994 yang di inisatori oleh ICMI dan didukung oleh berbagai pihak diantaranya Bank Muamalat, PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri dan pengusaha muslim lainnya.  Hingga tahun 2012, sudah berdiri beberapa perusahaan asuransi syariah baik yang bergerak di bidang asuransi jiwa, asuransi kerugian maupun reasuransi. Berdasarkan data per November 2012 yang dihimpun oleh infobank news, saat ini ada empat perusahaan asuransi jiwa syariah, dan dua perusahaan asuransi kerugian syariah. Sementara untuk unit usaha, tercatat ada 17 unit usaha syariah yang bergerak di asuransi jiwa dan 20 unit usaha syariah yang bergerak di asuransi kerugian. Sedangkan unit usaha syariah yang bergerak di bidang reasuransi baru berjumlah tiga unit. Dari sisi aset, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bapepam-LK per triwulan III tahun 2012 aset asuransi syariah masih dibawah 4 % atau lebih tepatnya sekitar Rp 11,4 triliun (3,54% dari pangsa pasar asuransi nasional yang saat ini telah mencapai Rp 322,2 triliun) atau hanya tumbuh sekitar 7,26 % dari kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.  Sementara dari sisi premi,  kontribusi yang diberikan industri asuransi syariah hanya sebesar 3,96% dari total premi industri asuransi nasional yang berkisar Rp 114,3 triliun atau tumbuh sekitar 52,9% dari kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.  Sektor asuransi syariah yang  belum terlalu menggeliat di indonesia menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pihak terkait  untuk lebih mengembangakan industri asuransi syariah di indonesia mengingat potensi pengembangan asuransi syariah di indonesia sangat besar karena didukung banyaknya masyarakat muslim di indonesia.

Selanjutnya mari kita beralih ke sektor pasar modal syariah. Saat ini perkembangan pasar modal syariah di indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sama baiknya dengan perbankan maupun asuransi syariah. Hal ini ditandai dengan muncul indeks saham syariah untuk korporasi-korporasi di indonesia. Diantaranya ada JII (Jakarta Islamic Index) dan ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia). Sebelum saya menjelaskan tentang perkembangan kedua indeks saham syariah tersebut, terlebih dahulu saya akan menjelaskan profil kedua indeks tersebut karena pasar modal syariah masih jarang diketahui oleh masyarakat. Jakarta Islamic Index (JII) diluncurkan pada 3 juli tahun 2000 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks saham tersebut muncul dari kerjasama antara pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan PT Danareksa Invesment Management (IDM). Indeks saham tersebut diluncurkan berbasis syariah, jadi perusahaan-perusahaan yang akan melakukan listing saham di JII tentunya harus memenuhi persyaratan tertentu diantaranya :

  1. usaha-usaha yang dilakukan perusahaan-perusahaan tidak boleh mengandung unsur judi,gharar dan spekulasi.
  2. Selanjutnya jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang berbasis jasa keuangan syariah maka tidak boleh melakukan kegiatan yang bersifat ribawi.
  3. jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan produksi maka usaha produksinya tidak boleh menghasilkan barang-barang yang mengandung unsur haram yang dilarang oleh agama islam.

Lalu aturan khusus mengenai rasio keuangan sebagai berikut:

  1. Total hutang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82% (hutang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 45% : 55%)
  2. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan (revenue) tidak lebih dari 10%

Jakarta Islamic Indeks sendiri merupakan indeks saham yang terdiri dari 30 saham perusahaan yang berkapitalisasi transaksi saham yang besar serta usahanya tidak melanggar syariah. Untuk menetapkan saham-saham yang masuk dalam perhitungan Jakarta Islamic Index dilakukan proses seleksi sebagai berikut:

  1. Saham-saham yang akan dipilih berdasarkan Daftar Efek Syariah (DES) yang dikeluarkan oleh Bapepam-LK.
  2. Memilih 60 saham dari Daftar Efek Syariah tersebut berdasarkan urutan kapitalisasi pasar terbesar selama 1 tahun terakhir.
  1. Dari 60 saham tersebut, dipilih 30 saham berdasarkan tingkat likuiditas yaitu nilai transaksi di pasar reguler selama 1 tahun terakhir.

Perkembangan transaksi saham di  Jakarta Islamic Indeks dari hari ke hari sering mengalami fluktuasi. Anda bisa lihat di web Bursa Efek Indonesia tentang perkembangan indeks JII tersebut. Berdasarkan data yang saya akses dari situs resmi Bursa Efek Indonesia, pada penutupan akhir tahun 2011 lalu indeks JII mencapai pada posisi 537,031[1] poin. Sedangkan pada penutupan pada akhir tahun 2012 lalu, posisi indeks JII berada di kisaran 594,789[2] poin. Ini artinya indeks JII mengalami pertumbuhan kurang lebih sebesar 10 % dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan positif yang ditorehkan oleh JII sebagai salah satu indeks saham syariah di indonesia.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia). Untuk menjawab tantangan global tentang perkembangan pasar modal berbasis syariah yang semakin berkembang, Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia meluncurkan indeks saham syariah yang bernama ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) pada tanggal 12 Mei 2011. Pendirian indeks saham tersebut sejalan dengan keluarnya fatwa MUI No 80 mengenai Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek. Salah satu tujuan berdirinya indeks tersebut untuk menghilangkan kesalahpahaman masyarakat yang menganggap saham syariah hanya terdiri dari 30 saham yang masuk dalam Jakarta Islamic Index(JII). Melainkan dengan adanya Indeks Saham Syariah Indonesia ini, masyarakat semakin teredukasi bahwa saham syariah tidak hanya JII semata melainkan ada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Selain itu pula diharapkan semakin banyak perusahaan-perusahaan yang memiliki lini bisnis yang tidak bertentangan dengan syariah melakukan listing saham di Bursa Efek Indonesia melalui Indeks tersebut. Persyaratan bagi perusahaan yang ingin listing di indeks ini tidak jauh berbeda dengan persyaratan Jakarta Islamic Indeks baik dari segi usahanya maupun rasio keuangannya. Perusahaan-perusahaan tersebut harus lolos kualifikasi yang sudah ditetapkan Bapepam-LK dan DSN-MUI agar bisa melakukan listing saham.  Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia per juni 2012, tercatat sudah 219 saham yang melakukan listing di Indeks Saham Syariah Indonesia. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk indeks saham yang baru berdiri pada 12 mei 2011 tersebut. Pada akhir tahun 2011, pencapaian Indeks Saham Syariah Indonesia mencapai pada posisi 125,356 poin[3]. Sedangkan pada tahun akhir tahun 2012, pencapaian Indeks Saham Syariah Indonesia berada pada posisi 144,995 poin[4]. Ini artinya terdapat pertumbuhan sekitar 13,5% dari tahun sebelumnya. Seperti halnya JII, ISSI pun melakukan capaian positif dengan pertumbuhan tersebut.

Lalu bagaimana dengan nilai kapitalisasi pasar kedua indeks saham syariah tersebut? Untuk nilai kapitalisasi pasar kedua indeks saham syariah tersebut, berdasarkan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh Indonesia Stock Exchange (IDX) tahun 2011 memperlihatkan nilai transaksi yang terjadi di kedua indeks tersebut mencapai US 556.321 billion atau sekitar 556 triliun rupiah. Untuk tahun 2012, berdasarkan dari laporan keuangan yang dikeluarkan oleh Indonesia Stock Exchange (IDX) tahun 2012 memperlihatkan nilai transaksi mencapai US 751.001 billion atau sekitar 751 triliun rupiah. Hal ini berarti terjadi peningkatan volume perdagangan mencapai 195 triliun rupiah atau meningkat sebesar 26% dari tahun sebelumnya. Sebuah pencapaian yang luar biasa yang dilakukan pasar modal syariah di indonesia. Semoga di tahun-tahun berikutnya pasar modal syariah terus menunjukkan tren peningkatan agar mampu bersaing dengan pasar modal syariah di negara lain.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa keuangan syariah di negara indonesia terus mengalami pertumbuhan yang positif, maka dari itu kita umat islam harus selalu semangat memperjuangkan perkembangan keuangan syariah di indonesia. Dunia mulai memberikan apresiasi positif dengan perkembangan keuangan syariah global. Maka dari itu indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat muslim terbesar di dunia harus memanfaatkan momen tersebut untuk menjadi pemain utama keuangan syariah di dunia

Salah satu caranya menjadikan keuangan syariah di indonesia menjadi pemain utama, bukan lagi konvensional. Setelah keuangan syariah menjadi pemain utama di Indonesia, maka kita dapat bersaing di kancah global dan akhirnya bisa menjadi pemain utama di industri keuangan syariah di dunia.


[1] Annual report IDX in 2011

[2] Annual report IDX in 2012

[3] Annual report IDX 2011

[4] Annual report IDX 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s