Apa sih redenominasi ??

Penulis : Alfado Agustio | Perbankan Syariah, Universitas Islam Negeri Jakarta 2009 |

Redenominasi adalah sebuah istilah yang akhir-akhir ini sedang hangat dibahas di berbagai media di indonesia, baik di media cetak maupun elektronik ramai-ramai membahas tentang urgensi dari penerapan redenominasi tersebut . Istilah redenominasi sendiri masih cukup awam bagi masyarakat indonesia karena banyak diantara mereka yang tidak mengerti tentang pengertian redenominasi itu sendiri.  Secara bahasa redenominasi ialah penyederhanaan, sedangkan menurut istilah redenominasi merupakan penyerderhanaan nilai suatu mata uang dengan mengurangi angka nol tanpa mengurangi nilai instrinsik dari mata uang itu sendiri. Banyak negara di dunia yang telah menerapkan redenominasi tersebut diantaranya Rusia, Argentina, Zimbabwe, Korea Utara dan Turki. 4 negara yaitu Rusia, Argentina, Zimbabwe dan Korea Utara gagal menerapkan redenominasi tersebut. Penyebabnya ialah timing penerapan redenominasi kurang tepat, saat penerapan redenominasi tersebut keadaan stabilitas ekonomi makro sedang kurang stabil, tingkat inflasi yang tinggi dan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pemerintah bahwa redenominasi penting menjadi  penyebab penerapan redenominasi tidak berhasil. Sedangkan negara lainnya yaitu Turki merupakan negara yang sukses dalam menerapkan redenominasi. Negara tersebut sangat memperhitungkan timing penerapan redenominasi tersebut. Saat perekonomian stabil , tingkat inflasi terjaga serta tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada pemerintah menjadi faktor sukses penerapan redenominasi di negara tersebut. Lalu bagaimana jika di indonesia ? sebelum memulai analisis ada baiknya saya memberikan contoh riil tentang redenominasi tersebut.

Jika redenominasi mulai diterapkan di indonesia, maka mata uang yang beredar saat ini akan mengalami pengurangan nilai nol sebanyak 3 buah sesuai dengan kebijakan dari Bank Indonesia. Angka yang tertulis pada kertas mata uang seribu rupiah yaitu Rp 1000,00 akan mengalami penyederhanaan menjadi Rp 1,00. Contoh lain angka yang tertulis pada mata uang lima puluh ribu rupiah yaitu Rp 50.000,00, saat penerapan redenominasi akan berubah menjadi Rp 50,00. Meskipun mengalami penyederhanaan, nilai instrinsik dari mata uang yang mengalami redenominasi tidak berkurang sama sekali. Ambil contoh sebelumnya yaitu Rp 1000 yang berubah menjadi Rp 1,00. Meski berubah menjadi Rp 1,00 namun saat mata uang tersebut dipakai sebagai alat tukar tetap bernilai seribu rupiah bukan  menjadi satu rupiah seperti angkanya.

Yang menjadi pertanyaan mendasar apakah redenominasi sudah penting untuk diterapkan di indonesia saat ini ? sebagai bahan perbandingan akan disajikan pendapat yang pro dan kontra dengan kebijakan tersebut.

Pihak yang pro terhadap kebijakan tersebut diantaranya Bank Indonesia dan Pemerintah. Pihak  Bank Indonesia menyatakan penerapan  redenominasi di indonesia sangat penting karena nilai mata uang rupiah sudah terlalu lemah terhadap dollar Amerika Serikat. Saat ini per Januari 2013 nilai tukar rupiah terhadap dollar berada di kisaran Rp 9600,00. Jika diterapkan redenominasi maka nilai tukar akan berubah yaitu satu dollar bernilai Rp 9,6. Hal ini memperlihatkan bahwa rupiah menguat terhadap dollar. Alasan yang sama juga disampaikan pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardoyo, penerapan redenominasi sangat diperlukan karena ini akan berimplikasi meningkatkan martabat bangsa di mata dunia. Lebih lanjut Agus Marto menjelaskan Indonesia  sebagai negara yang sudah bergabung menjadi G-20 akan terlihat aneh jika nilai tukar dollar terhadap rupiah masih berada di kisaran Rp 9000-an. Jika nilai tukar menjadi hanya Rp 9, Maka ini mengindikasikan rupiah menguat terhadap dollar dan membuat rupiah menjadi mata uang yang diperhitungkan yang akhirnya akan meningkatkan kebanggaan bangsa indonesia terhadap penggunaan rupiah.

Di sisi lain ada beberapa pihak yang menyatakan kontra. Diantaranya ekonom Kwik Kian Gie menyampaikan penerapan redenominasi hanya akan membuat kebingunan di kalangan masyarakat luas karena mereka belum terlalu paham tentang redenominasi.  Sedangkan menurut Raden Pardede selaku anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional) menyebutkan bahwa penerapan redenominasi hanya dilakukan jika inflasi sudah tinggi , sedangkan di indonesia inflasi masih terjaga di kisaran 5 %. Menurutnya penerapan redenominasi belum tepat saat ini.

Berdasar pada pendapat pro & kontra terhadap penerapan redenominasi, saya sendiri berpendapat pro terhadap kebijakan tersebut.  Terdapat nilai positif yang dapat diambil dari penerapan kebijakan redenominasi tersebut diantaranya seperti yang dikatakan Menteri Keuangan Bpk Agus Marto bahwa redenominasi akan meningkatkan derajat dan martabat bangsa di mata dunia . Tentunya ini akan meningkatkan nasionalisme kita sebagai masyarakat bangsa indonesia bangga menggunakan mata uang rupiah.jika rupiah dibiarkan terus tertekan terhadap dollar, tentu ini merupakan berita buruk terhadap bangsa kita yang saat ini sudah merupakan anggota G-20.G-20 sendiri merupakan kumpulan negara-negara yang memiliki tingkat pendapatan nasional (PDB) yang tinggi dan tingkat perekonomian yang stabil.  Sedangkan tanggapan terhadap pihak kontra seperti masalah sosialisasi tentang penerapan redenominasi, pemerintah tentu sudah memikirkan hal tersebut secara matang agar kebijakan tersebut berjalan sukses. Turki sebagai negara yang berhasil menerapkan redenominasi memerlukan waktu yang tidak sebentar, tentunya Indonesia bisa belajar dari keberhasilan Turki dalam mengatur redenominasi tersebut baik dari rencana maupun penerapan di lapangan. Sedangkan dari sisi inflasi, jika menunggu inflasi tinggi dikhawatirkan Indonesia akan mengalami nasib serupa dengan negara-negara yang gagal dalam menerapkan redenominasi . Saya rasa saat ini timing yang tepat memulai proses penerapan redenominasi, dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang apa itu redenominasi. Setelah sosialisasi, dapat dilakukan dengan langkah selanjutnya yaitu penerbitan mata uang yang telah diredenominasi secara bertahap agar tidak terjadi kebingungan di masyarakat luas. Menurut perhitungan kementrian keuangan tahun 2022 penerapan redenominasi di indonesia akan berjalan sukses dan lancar. Selisih waktu saat ini yaitu 2013 hingga 2022 ialah 9 tahun. Saya rasa waktu yang cukup dalam menerapkan redenominasi di indonesia. Dari tingkat kepercayaan masyarakat  kepada pemerintah memang saat ini sedang mengalami penurunan seiring dengan prestasi buruk yang dihasilkan pemerintah seperti kasus korupsi yang tinggi, kondisi perpolitikan yang sedang carut marut, kinerja para pejabat pemerintah yang kurang maksimal dalam melayani masyarakat. Akan tetapi pemerintah jangan berkecil hati dengan hal-hal tersebut. Dengan niat benar-benar meningkatkan harkat dan martabat bangsa indonesia tentu segenap masyarakat indonesia akan mendukung penerapan redenominasi ini.

semoga penerapan redenominasi betul-betul niat baik dari pemerintah untuk meningkat harkat dan martabat bangsa bukan sebagai komoditas politik untuk meningkatkan pamor menjelang pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s