Bagian 1/3 : Mengenal Lebih Jauh Tentang Riba

Definisi Riba

Riba dari segi istilah bahasa sama dengan “Ziyadah” artinya tambahan. Sedangkan menurut istilah tehnis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok (modal) secara bathil.

Terdapat perbedaan pendapat dalam menjelaskan riba. Secara umum riba adalah penambahan terhadap hutang. Maknanya, setiap penambahan pada hutang baik kualitas ataupun kuantitas, baik banyak atau sedikit, adalah riba yang diharamkan.

Landasan Al Qur’an Surat An-Nisa (4) ayat 29 yang berarti: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil”.

Adapun yang dimaksud dengan jalan yang bathil dalam hal ini yaitu pengambilan tambahan dari modal pokok tanpa ada imbalan pengganti (kompensasi) yang dapat dibenarkan oleh Syar’ie.

Jenis-jenis Riba

Secara garis besar riba terbagi kepada dua bagian, yaitu : Riba Hutang Piutang dan Riba Jual beli

Riba Hutang Piutang, terbagi menjadi dua yaitu Riba Qord dan Riba Jahiliyyah.

Riba Qord, suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (Muqtaridh).

Riba Jahiliyyah, hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

Riba Jual Beli, terbagi menjadi dua juga yaitu Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah.

Riba Fadhl, pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.

Riba Nasi’ah, penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

ILLAT (Alasan) Pelarangan Riba Menurut Berbagai Madzhab

Persoalan : Riba Fadhl

Hanafi : Kadar (ditimbang atau ditakar) dan satuan jenis.

Maliki : Sebagai bahan makanan, Untuk emas dan perak karena tsumuniyyah sebagai pematok harga barang-barang.

Syafe’i : Untuk emas dan perak karena tsumuniyyah. Untuk lainnya karena berfungsi sebagai bahan makanan, buah-buahan dan untuk obat-obatan.

Hambali : Sebagian pengikutnya berpendapat seperti Hanafi, sebagian lagi seperti pendapat Syafi’iyah dan sebagian lagi berkata selain dari emas dan perak, illatnya karena dapat dimakan.

Persoalan : Riba Nasi’ah

Hanafi : Salah satu dari dua illat riba fadhl.

Maliki : Dapat dimakan.

Syafe’i : Tsumuniyyah.

Hambali : Tsumuniyyah

Persoalan : Barang Ribawi

Hanafi : Lebih dari tujuh, asal dapat ditimbang, ditakar atau kesatuan jenis.

Maliki : Lebih dari tujuh asal dapat disimpan dan dimakan.

Syafe’i : Lebih dari tujuh asal sebagai makanan dan berfungsi sebagai buah-buahan dan obat-obatan.

Hambali : Lebih dari tujuh.

Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil

Bunga

Penentuan tingkat suku bunga dibuat  pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung.

Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan  berligat ganda atau keadaan ekonomi sedang ‘Boooming”.

Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk Islam.

Bagi hasil

Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untuk rugi.

Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan sekiranya itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil.

9 Alasan yang Mengatakan Interest bukan Riba

1. Dalam keadaan darurat bunga halal hukumnya.

2. Hanya bunga yang berlipatganda saja yang dilarang, adapun suku bunga yang wajar dan tidak menzalimi diperkenankan.

3. Bunga diberikan sebagai ganti rugi (opportunity cost) atas hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengolahan dana tersebut.

4. Hanya kredit yang bersifat konsumtif saja yang pengambilan bunganya dilarang adapun yang produktif tidak demikian.

5. Uang dapat dianggap sebagai komoditi sebagaimana barang-barang lainnya oleh karena itu dapat disewakan dan dambil upah atasnya.

6. Bunga diberikan untuk mengimbangi laju inflasi yang mengakibatkan menyusutnya nilai uang.

7. Bunga diberikan atas dasar abstinence.

8. Sejumlah uang pada masa kini mempunyai nilai yang lebih tinggi dari jumlah yang sama pada suatu masa nanti. Oleh karena itu bunga diberikan untuk mengimbangi penurunan nilai ini.

9. Bank, demikian juga Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) sebagai lembaga hukum tidak termasuk teritorial hukum taklif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s